Wahai Orang Pesimis!

Mei 16, 2008 pukul 9:43 pm | Ditulis dalam Optimis | 5 Komentar
Tag:

Mengapa Anda membaca posting saya ini? Apakah Anda merasa orang pesimis? Ada dua kemungkinan alasan yang membuat Anda membaca posting ini. Yang pertama, Anda merasa pesimis. Yang kedua hanya ingin sekedar tahu saja. Terlepas apakah Anda orang pesimis atau optimis, saya sudah menyiapkan suatu obat yang manjur untuk mengobati penyakit pesimis. Anda mau? Mari kita diagnosa dulu.

Ciri orang yang pesimis ialah selalu memandang keburukan dari setiap hal. Jika orang pesimis selalu berusaha menghidupkan api, sementara orang pesimis akan mencari-cari alasan untuk mematikan api yang sudah nyala. Bagi orang pesimis segalanya akan menjadi jelek.

Coba jawab pertanyaan ini. Apakah Anda mungkin mendapatkan penghasilan Rp 100.000.000 sebulan?

Jika Anda mengatakan:

“Tidak mungkin”

“Mungkin sih, tapi……”

“Ah jangan mimpi….”

“Mungkin.” (Tapi Anda sambil tertawa meledek)

“Saya tidak perlu (butuh) penghasilan sebesar itu.”

“Bagaimana bisa?”

“Ada-ada saja, memang uang tumbuh dari pohon.”

“Bisa saja, kalau ada orang gila menggaji saya.”

“Bagaimana caranya?”

“Yang benar saja!”

dan berbagai jawaban lainnya, maka Anda termasuk orang yang pesimis.

“Bagaimana dengan kamu sendiri Rahmat?”

Yah, mungkin Anda tidak akan menjawab, tetapi justru malah balik bertanya kepada saya.

Ini juga ciri orang pesimis.

Anda punya alasan atasa semua jawaban Anda?

Yah saya tahu, Anda mungkin akan mengatakan bawah realitas tidak memungkinkan untuk mendapatkan penghasilan Rp 100 juta per bulan. Anda juga mungkin mengatakan bawah Anda memiliki alasan kuat mengapa tidak bisa mendapatkan penghasilan penghasilan sebesar itu.

Saya beritahu, orang yang bersandar pada realitas adalah ciri orang pesimis juga. Kemudian orang yang pandai mengemukakan alasan, juga orang pesimis.

Orang optimis akan mengatakan:

“Ya, saya bisa!”

“Banyak yang bisa saya lakukan. Banyak orang yang mau mengajari saya. Saya akan memiliki penghasilan Rp 100.000.000 per bulan. Saya pasti bisa dan saya akan mendapatkannya.”

Bahkan, Anda akan berani mengatakannya kepada orang lain meskipun Anda belum mendapatkan penghasilan sebesar itu. Orang optimis akan memiliki keyakinan yang kuat. Orang optimis akan mengatakan mengapa tidak?

Seperti janji saya diawal posting, saya akan menunjukan obat mujarab untuk mengobati pesimis. Saya jamin Anda akan menjadi orang optimis dalam beberapa hari ke depan. Dan jika Anda mempertahankan optimisme Anda, maka penghasilan Rp 100.000.000 per bulan bukanlah hal yang mustahil. Tentu, kapan Anda mendapatkannya sesuai dengan optimisme dan usaha Anda.

Klik disini untuk mendapatkan obatnya.

5 Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. Anda seorang penjual yang hebat, aku salut akan hal itu.. anda berani mengemukakan alasan anda keberaniaan anda, tentu anda telah siapkan seratus juta alasan untuk melengkapi sifat optimis anda. Terus terang saya orang miskin, tapi saya merasa bukan pengemis, setiap orang memiliki pemikiran sendiri dan rasa kecukupan sendiri, berapa standar yang dimiliki setiap orang tentu anda bisa memikirkannya, jika anda bertanya ini kepada tukang beca, maka saya pikir tukang beca ini adalah seorang yang kaya raya. dia merasa bangga dengan profesinya karena dia bisa menghidupi keluarganya dengan penghasilan yang diridhoi Tuhan menurutnya, dan dia merasa bukan pemimpi yang berharap ada uang seratus juta jatuh dari langit.

    Rasa optimis bukan sekedar idealisme.
    Pendapatku:
    “Setinggi-tinggi gunung, tak setinggi lututku”
    bukan “Setinggi-tinggi langit tak setinggi lututku”

    Soekarno Bilang “Gantungkan Cita-citamu Setinggi langit”

    ingat kata “Akan” bukan berarti bisa.
    dan kata pengemis itu cukup hina di mata Tuhan dan masyarakat.
    Saranku: gunakanlah kata yang lebih bijaksana.

  2. Asalamu allaikum. wr. wb.
    Pak rahmat maaf saya menambahkan sedikit artikel di dalam artikelmu.

    Raja Termiskin DI DUNIA.

    Suatu siang seorang guru sufi mendengar keriuhan dan kegaduhan melanda desanya. Teriakan manusia berserakan di udara. Hingar bingar dicampur dengan ringkikan kuda, lenguhan sapi dan kerbau, embikan kambing, dan lainnya. Orang-orang desa sepertinya sedang dicekam rasa takut dan kalut yang sangat. Sang guru sufi yang sedang asyik berzikir di gubuknya pun terusik, hingga dia pun berhenti dan keluar ingin melihat apa yang sedang terjadi.
    Dari kejauhan sang guru sufi dapat melihat beberapa tentara kerajaan sedang menjarah uang orang-orang desa. Mereka yang tidak punya uang harus merelakan binatang ternaknya digondol. Mereka yang menentang ditendang atau dihajar. Oleh karena itulah kemudian orang-orang desa berlarian menyeret-nyeret hewan ternaknya agar bisa diselamatkan.
    Sang guru sufi kembali masuk ke dalam gubuknya dan melanjutkan zikirnya. Siangnya orang-orang desa mengerumuni gubuk sang guru sufi. Mereka mengeluhkan kekejaman yang dilakukan sang raja.
    Akan tetapi, entah bagaimana dua hari kemudian sang guru dijemput seorang utusan dari raja zalim itu agar datang ke istana. Kabarnya, sang raja zalim itu ingin bertemu dengannya. Kemasyhuran sang guru sufi dalam hal kearifan dan kesalehan membuat sang raja ingin bertemu dengannya. Sesampai di istana, sang guru sufi diantar pengawal menemui raja.
    Sang raja sangat senang dengan kedatangan sang guru sufi. Sang raja pun menyilakan duduk dengan senyum lebar. Gigi sang raja terlihat di bawah rerimbunan kumis yang lebat. Setelah berbicara banyak sang raja pun merasa senang dan puas dengan kearifan sang guru sufi. Lalu sang raja menyuruh pembantunya mengambil satu kantong uang untuk diberikan kepada sang guru sufi.
    Tapi, apa yang terjadi? Sang guru sufi yang penampilan luarnya sangat sederhana, sebagai seorang darwis, pengemis, tiba-tiba menolak uluran tangan dari sang raja.
    Raja sangat heran ketika sang guru sufi berkata, “Saya kira baginda lebih layak menerima pemberian ini.”
    “Kenapa begitu?” sergah sang raja dengan mata terbelalak keheranan.
    “Karena engkaulah raja yang termiskin di dunia ini!” jawab sang guru sufi. Sehingga engkau merampas harta rakyatmu, untuk menutupi kemiskinanmu itu.
    Raja hanya bisa termenung. Sang guru sufi pun kemudian bergegas meninggalkan istana.

    Syarah dari pentahkik :
    Jika engkau melihat seorang penguasa mengambil harta dari orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya, maka ketahuilah bahwa ia adalah orang yang sangat zalim.
    Sebenarnya pengambilan harta yang tidak halal baginya sudah merupakan suatu kezaliman. Ketika ia mengambilnya dari orang yang justru di bawah kekuasaannya (yang seharusnya mendapatkan kasih sayangnya) maka kezaliman itu menjadi berlipat-lipat jumlahnya.
    Tak sedikit orang yang mengambil untung dari keringat orang lain. Ambil contoh saja, sistem potong gaji semena-mena, karena sakit atau karena libur nasional, atau juga pada kasus di mana engkau yang bekerja, tetapi orang yang tak ikut bekerja malah kebagian gajinya.
    Hal ini jelas menunjukkan dua kemiskinan. Yang pertama adalah kemiskinan harta (sehingga ia tetap merasa haus akan harta (bahkan terhadap harta yang tak berhak diterimanya), dan yang kedua adalah kemiskinan hati dan nurani.
    Maka janganlah engkau termasuk ke dalamnya. Biarlah bagianmu di dzalimi di dunia, kelak engkau dapat menuntut keadilan di akhirat. Jangan engkau membalas mereka, biarlah laknat Allah atasnya…. Amin.

  3. Baca juga biar gak pesimis

    http://indra1082.wordpress.com/2008/04/29/optimis/

  4. ass,saya cuma mau mengatakan sedikit,dari tulisan di atas, menurut saya dalam hidup, kita harus mempunyai tujuan apa yang harus kita capai,apa yang kita inginkan, coba bayangkan seorang anak kecil batapa iya bisa bangun pagi,mandi, dan langsung berangkat kesekolah, itu di karenakan iya mempunyai tujuan,
    tapi kalau seandainya kita tidak mempunyai tujuan, seperti di hri minggu kita bangun sudah jam 10,masih tidur tiduran di atas kasur,nonton tv sampai berjam-jam,tetapi setelah kita ingat bahwa siang ini kita harus hadir di pernikahan temen kita ,kita langsung bergegas/bersiap-siap untuk berangkat.

    nah seperti itulah hidup kita sekarang ini. kita harus mempunyai tujuan hidup, jangan pesimis kita harus optimis, kita bisa,ayo bangkit dari pada keterpurukan, jangan mudah menyerah jangan pernah putus asa.

    maap ya, cuma itu yang bisa saya sampaikan
    kalu ada kata-kata yang salah tolong di maafkan.

    selamat berjuang kawan.
    wass.

  5. OK kita harus optimis, trimakasih artikelnya bagus


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: